PENGGALAN NOVEL "DIMENSI" - Semesta Asal - Karya Ahmad M. Mabrur Umar

SEMESTA ASAL
"Apa yang terjadi di semestamu, Syira?" Lana memulai
pertanyaan.
Tawa Syira mulai tersumpal, mengingat sesuatu, "sebuah
kebakaran hutan."
"Bagaimana kebakaran hutan bisa memicu kehancuran seluruh
semesta?"
"Itu cerita yang memilukan."
Syira menatap kosong dinding kaca. Pandangannya terus menerobos ke
luar. Hujan masih mengguyur semesta X-1-B. Dia menatap lamat-lamat neonbox
bertulis "Hope Cafe".
"Sama seperti semesta ini yang selalu diguyur hujan.
Kehancuran selalu berawal dari hal yang sepele. Dianggap tidak berbahaya. Tapi,
butterfly effect itu benar-benar nyata." Syira menarik napas sejenak.
Merangkai ingatan tentang semestanya yang telah hancur.
"Kebakaran itu tadinya hanya melahap sebagai kecil hutan.
Hingga akhirnya merambat ke hutan-hutan gambut."
"Hutan gambut? Hutan gambut harusnya tidak bisa terbakar
dengan mudah. Gambut-gabut itu menampung banyak air. Hasil dari mengendapan
ranting dan daun selama ratusan tahun."
"Iya, awalnya semua menganggap seperti itu. Hutan gambut
harusnya bisa memadamkan api. Atau setidaknya mempermudah pengendalian api
untuk dipadamkan.
"Tapi, manusia itu di semesta mana pun selalu saja serakah.
Gambut-gabut di hutan hujan teropis itu tidak lagi mengandung air. Beberapa
tahun sebelum kebakaran terjadi, ada proyek-proyek pembangunan parit yang
dibuat di sekitar gambut. Sangat dalam dan panjang. Menghabiskan luas lahan
berhektar-hektar. Parit-parit irigasi itu untuk mengalirkan air ke laut.
"Tentu saja, itu adalah air-air yang tertampung di dalam
gambut selama bertahun-tahun. Akibatnya fatal. Setelah air tanah itu dikuras
habis, sisa-sisa ranting dan daun yang mengendap selama bertahun-tahun itu
menjadi kering. Sangat mudah dilahap api. Karena tumpukkan daun dan dahan
kering itu sangat tebal, api yang membakar bukan hanya di permukaan, tapi
melahap hingga ke dalam tanah.
"Api sulit dikendalikan. Butuh berton-ton air untuk bisa
memadampan satu hektar lahan yang terbakar. Kemarau menambah masalah baru. Api
di dalam tanah makin berkobar. Kebakaran hutan semakin membesar. Menyebar ke
mana-maba.
"Asap membubung tinggi. Menambah kengerian bencana itu.
Asap-asap menyebar ke seluruh kota, membungkus langit-langit. Menyebar ke
penjuru provinsi. Menyeberang ke provinsi lain, ke pulau lain. Bahkan, hingga
menyelimuti negara-negara tetangga."
Lengang sejenak di ruangan kafe itu. Hujan masih mengguyur di luar
sana. Langit malam makin pekat. Tapi, cerita kengerian tentang hancurnya
semesta Syira belum selesai. Bagaimana bisa kebakaran hutan menghancurkan
seluruh semesta? Ya, seluruh semesta, bukan hanya satu kota, satu pulau,
negara, atau planet. Tapi, benar-benar seluruh semesta.
Tak satupun anggota tim khusus Dimensi Nol yang bersuara. Mereka
seperti menahan napas. Cerita ini belum selesai. Kengerian selanjutnya baru
saja dimulai. Mereka memberikan Syira waktu beberapa jenak, hingga dia siap
menyambung ceritanya lagi. Mereka harus mengali informasi sebanyak-banyaknya
tentang kehancuran semesta yang pernah terjadi.
"Siapa yang harus bertanggung jawab?" Syira mulai
bercerita. Kali ini suaranya selalu riang dan penuh tawa terdengar berat. Di
ujung matanya terlihat basah.
"Tidak satu pun dari petinggi-petinggi itu yang menunjukkan
empati. Mereka hanya mengatakan itu semua bencana alam, takdir Tuhan, atau apa
pun yang membuat mereka terlihat tidak bersalah. Padahal kami tahu,
proyek-proyek parit itu adalah ulah mereka. Merekalah yang meloloskannya.
Bahkan, ada kepemilikan mereka di lahan-lahan yang kelak dijadikan
perkebunan."
"Mereka... Para elite itu ... Mereka justru asyik berpesta.
Melantik kabinet. Membagi-bagikan jabatan dengan gaji jutaan dari uang rakyat.
Merayakan ulang tahun. Hingga berlibur ke luar negeri. Sementara itu, ...
sementara itu, di lapangan rakyat dan aparat-aparat kelas bawah sibuk
memadamkan api yang mereka tahu mustahil untuk padam.
"Wabah penyakit mulai tersebar. Ispa, dan gangguan pernapasan
lainnya perlahan menggerogoti warga yang terdampak asap. Termasuk
relawan-relawan di lapangan. Korban jiwa mulai berjatuhan. Teman, sahabat,
saudara, orang tua, kami semua mulai kehilangan satu per satu orang tercinta.
"Kami beruntung, tidak semua orang di semestaku tak peduli.
Masih banyak orang-orang yang mengirim bantuan, baik itu tenaga, pakaian,
makanan, atau apa pun yang bisa mereka berikan untuk membantu."
Lengang lagi. Hanya menyisakan suara hujan yang semakin menderas.
"Jika di semesta lain, hujan akhirnya mengguyur deras dan
memadamkan api hingga ke dalam tanah. Di semestaku itu tidak terjadi. Kemarau
semakin panjang. Itu bulan-bulan yang sulit. Api kian menyebar. Asap makin
pekat. Langit tidak lagi berwarna biru. Asap yang menghalangi sinar matahari
sempurna membuat sekitar terlihat berwarna jingga. Saat matahari terbenam atau
terbit, warna merahnya lebih pekat. Jarak pandang pun terbatas.
Kendaraan-kendaraan saling membunyikan klakson untuk menghindari terjadinya
kecelakaan di jalanan. Tapi, sial tetap tak dapat dihindari, beberapa
kecelakaan beruntun kerap terjadi di jalanan. Korban-korban baru berjatuhan.
"Bulan kini berganti tahun. Api dan asap kebaran itu tidak
hanya menyebarkan penyakit. Masalah iklim pun terjadi. Hutan yang terbakar
semakin meluas. Asap semakin menyebar. Pemanasan global terjadi. Hutan yang
tadinya menjadi paru-paru dunia, kini perlahan lenyap. Atmosfer bumi yang
diselimuti asap pun semakin rusak. Hujan menjadi lebih jarang turun. Asap pekat
di udara membuat partikel-partikel air menjadi tersebar. Normalnya, partikel
kecil itu harus saling bertabrakan untuk menciptakan air hujan yang deras.
Tapi, karena partikel-partikel tersebar dan banyak, air-air itu hanya menjadi
gumpalan kecil. Tidak sempat menjadi hujan yang mengguyur tanah, air itu sudah
menguap kembali.
"Itu kemarau terpanjang sepanjang sejarah. Dua tahun berlalu,
tiga tahun, hingga lima tahun. Tidak ada hujan. Kabar buruknya, kebakaran
semakin meluas. Puluhan juta jiwa hilang. Penyakit di mana-mana. Kini kebakaran
menyebar ke seluruh dunia. Krisis kehidupan."
Semua yang mendengarkan menghela napas. Menundukkan kepala. Merasa
iba.
"Tapi, ada kabar baik setelah lima tahun itu." Syira
diam, meski dia menyebut "kabar baik". Tapi, wajahnya tetap tidak
menyulam senyum. Apa maksudnya "kabar baik"?
"Elite-elite itu ikut merasakan dampak bencana itu. Itu kabar
baiknya. Mereka akhirnya mau melakukan upaya-upaya untuk memadamkan api.
Setelah istana negara diselimuti asap tebal. Masker-masker mereka tidak sanggup
menahan agar tidak menghirup asap. Keluarga mereka satu per satu mulai menjadi
korban. Ada yang sakit, bahkan meninggal dunia. Mereka bertobat.
"Tapi, sia-sia saja. Semua sudah terlambat. Seluruh bumi telah
diselimuti asap. Manusia di ujung kepunahannya. Akibat keserakahan mereka
sendiri. Umat manusia tersisa mulai melakukan upaya-upaya menyelamatkan planet
mereka dari kiamat. Mereka tetap gagal. Air di lautan memang sangat melimpah.
Tapi, tidak cukup untuk memadamkan api di seluruh planet bumi. Api sudah
menyebar, juga merambat puluhan kilometer ke dalam tanah. Alat-alat berat
mereka pun mulai rusak. Pesawat, helikopter, kapal, drone, semua mulai kehabisan
bahan bakar, lima tahun terakhir semua industri mati. Termasuk penambangan
bahan bakar. Belum lagi, alat-alat itu dipaksa bekerja siang-malam. Membuat
lama kelamaan mesinnya rusak."
"Benar-benar tidak ada harapan." Lana akhirnya bersuara.
Syira mengangguk.
"Hanya dalam waktu lima tahun kebakaran menyebar ke seluruh
planet."
Syira kembali mengangguk, "andai saja mereka tidak bebal sejak
awal. Andai saja mereka bergerak lebih cepat. Semestaku tidak punah. Aku
mungkin masih bisa berkumpul dengan keluargaku."
"Apa yang terjadi dengan keluargamu, Syira?" Ruri yang
kali ini bertanya.
Semua menatap Ruri. Jarang sekali kapten mereka sepenasaran itu.
Tapi, kembali menatap Syira yang hendak menjawab dan melanjutkan ceritanya.
"Di tahun ketujuh, umat manusia berkurang drastis. Tersisa dua
puluh juta jiwa. Aku salah satunya, bersama adikku. Orang tua kami meninggal di
tahun kedua kebakaran. Karena ISPA. Kondisi kami tidak kalah menyedihkan. Di
pengungsian, kami hanya berharap bantuan dari pemerintah dan masyarakat. Tapi,
itu masa-masa yang sulit. Seluruh dunia sedang mengalami krisis. Adikku sudah
berbulan-bulan hanya terbaring di tenda pengungsian. Makan dan minum seadanya.
Hingga bulan keenam, dia ikut menyusul orang tua kami. Dia meninggal dalam
pelukanku. Apakah aku menangis? Bertahun-tahun melihat banyak kematian dalam
kondisi seperti itu, rasanya aku lebih mudah mengikhlaskan adikku. Dia justru
akan semakin menderita jika terus hidup dalam kabut asap ini.
"Dua tahun berlalu lagi. Manusia tersisa sembilan juta jiwa.
Hingga pemerintah seluruh dunia menyepakati satu hal: mencari planet lain yang
layak dihuni. Mereka mulai membuat roket yang memadai untuk mulai
mengeksplorasi jagat raya. Mulai menyeleksi anggota-anggota yang siap mencari
planet hunian. Mereka mulai mencari orang-orang yang memiliki kecerdasan dan
daya tahan tubuh yang luar biasa. Beberapa manusia berhasil bertahan
mati-matian melawan iklim baru di bumi. Membuat tubuh mereka beradaptasi dan
bermutasi menjadi kebal asap dan cuaca panas ekstrem. Beberapa dari kami bahkan
bisa hanya minum sekali dalam beberapa hari hingga sebulan.
"Kalian tahu, aku menjadi salah satu yang direkrut. Aku ikut
dalam ekspedisi itu. Mencari planet lain yang layak huni. Tapi, ini bagian yang
paling menyayat hati. Kami tidak benar-benar mencari planet layak huni untuk
sembilan juta manusia. Di roket itu hanya ada 20 orang. Dan kamilah yang akan
menghuni planet baru itu. Kami baru diberi tahu setelah berhasil menembus
atmosfer bumi. Proyek itu untuk menyelamatkan ras manusia. Dipilihlah yang
paling unggul.
"Kami menarik napas. Kami dipaksa meninggalkan planet bumi
demi melanjutkan ras manusia dan mengorbankan sembilan juta nyawa lainnya. 'Ini
harus dilakukan, bumi ini sudah tidak layak. Kita tidak bisa menbuat roket
lebih banyak untuk membawa sembilan juta orang. Kalianlah yang layak, kalianlah
yang harus diselamatkan'. Itu kata stasiun keberangkatan di bumi. Setelah
mengatakan itu, komunikasi terputus.
"Tangisan pecah di dalam roket. Beberapa dari mereka punya
keluarga yang masih ada di bumi. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi, itu
tetap menyakitkan, meninggalkan rumah yang selama ini dihuni."
"Kalian berhasil menemukan planet layak huni?"
Syira menggeleng, "sulit sekali mencari planet yang masuk
kategori layak huni dan belum dihuni."
Lengang sejenak.
"Ini terdengar aneh, tapi, seluruh planet layak huni, baik
yang memiliki kehidupan atau yang belum, semua terbakar."
"Itu ulah Azjial." Ruri bergumam.
"Benar, Cap. Setelah bergabung dengan Dimensi Nol, aku
akhirnya tahu itu ulahnya. Tapi, saat itu aku dan tim di roket pun merasa aneh.
"Kami terombang-ambing di angkasa yang kosong. Bahan bakar
habis. Di bulan ketiga, dua anggota tim tumbang. Itu benar-benar kiamat bagi
umat manusia. Kami siap menemui kepunahan.
"Hingga suatu malam –entah bagaimana membedakan siang dan
malam di sana. Roket kami bergetar. Semakin kencang. Semakin cepat. Roket kami
mulai tertarik ke satu arah. Seperti ada magnet besar yang menarik. Lampu emergency
berkedip-kedip merah. Alarm berbunyi. Kami melihat ke luar kaca roket.
Bintang-bintang, planet-planet mulai bergerak ke arah yang sama. Seperti
tornado. Memutar tapi menuju suatu inti.
"'Blackhole', salah satu dari kami bergumam. Ya,
semesta kami sedang terisap sepenuhnya menuju lubang hitam raksasa. Daya
gravitasi yang kuat membuat apa pun ikut terisap masuk ke dalamnya. Bahkan
cahaya pun tak bisa lolos.
"Roket kami terus berputar-putar, berevolusi dengan level
kecepatan yang dahsyat. Ribuan kali lebih cepat dari putaran revolusi bumi
terhadap matahari. Bahan bakar telah habis. Roket tidak bisa dikendalikan. Kami
menutup mata, siap menemui akhir hidup kami di dalam blackhole itu.
"Saat itulah seberkas cahaya muncul di depan roket kami.
Menarik kami ke dalamnya. Menyelamatkan kami dari isapan lubang hitam raksasa.
Saat kami berhasil masuk sepenuhnya ke dalam cahaya, sebuah ledakan dahsyat
terdengar. Itulah akhir dari semesta kami. Semesta B-10-RN-30 akhirnya menemui
kiamatnya."
Lengang lagi.
"Biar kutebak, yang menyelamatkan roket kalian adalah Dimensi
Nol?"
Syira mengangguk.
"Dari Dimensi Nol, aku akhirnya tahu, blackhole itu
bukanlah lubang hitam biasa yang lahir dari siklus bintang. Ia adalah celah
kehancuran—akumulasi entropi dan ledakan ekosistem dari berbagai dunia yang
disedot oleh entitas bernama Azjial. Dan salah satu titik awal keruntuhan itu
dilacak berasal dari titik kecil di galaksi Bima Sakti: Bumi yang terbakar
habis dari dalam tanah."
Salah satu dari mereka memegang pundak Syira, mecoba menguatkan.
“Tenang saja, aku sudah ‘move on’. Kisah itu sudah
tertinggal jauh di belakang.”
...
Kini semua menatap Ruri. "Apa yang terjadi di semestamu,
Cap?"
Ruri mengangkat bahu, "aku tidak tahu dari mana aku
berasal."
Hening sejenak. Semua saling tatap. Apa maksudnya?

_____________________________Terima kasih atas kunjungan Anda dan telah bersedia membaca karya-karya sederhana kami. Dukung blog Kosan Karya dengan mengklik iklan yang tampil. Klik share jika Anda menganggap karya ini menarik dan layak dibagikan, atau tinggalkan komentar, kritik, dan saran agar dapat menjadi acuan bagi penulis.
Salam,
Terima Kasih.
0 Response to "PENGGALAN NOVEL "DIMENSI" - Semesta Asal - Karya Ahmad M. Mabrur Umar"
Post a Comment